ISTIQOMAH DALAM BERIBADAH(Khutbah ‘idul Fithri 1431 H )by Drs. H. Moh. Rofiqin, MA.

Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillahil hamd

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, Yang Maha Pengasih Maha Penyayang, yang memberikan hidayah dan taufiqNya kepada kita, yang mengaruniakan kesehatan dan kesempatan kepada kita untuk berhari raya ‘Idul Fithri tahun ini dengan menegakkan shalat ‘Id, sebagai ungkapan syukur kita ke hadiratNya, karena berkat rahmatNya jualah kita berhasil menunaikan shiyam dan ibadah serta amal shalih lainnya selama bulan Ramadhan. Menandai berakhirnya bulan yang agung penuh barakah ini, maka semenjak sang surya terbenam di ufuk barat kemarin, kita gemakan kalimah takbir, kita kumandangkan kalimah tauhid dan kita bahanakan kalimah tahmid. Firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 185 :

Artinya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilanganya (Ramadhan) dan bertakbir mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.

Kalimah takbir (ALLAHU AKBAR) yang artinya “Allah Maha Besar”, adalah suatu pernyataan tentang kesabaran, keagungan dan kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla, satu-satunya Tuhan Pencipta, Pengatur dan Pemelihara alam semesta. Firman Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 190

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya siang dan malam, merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi orang-orang yang berakal”.

Marilah sejenak kita renungkan salah satu ciptaan Allah berupa planet bumi yang kita tempati sehari-hari. Bumi ini bulat bagai sebuah bola dengan kelilingnya 40.000 km dan beratnya 5.900.000.000.000.000.000.000 ton. Bumi seberat ini berputar pada sumbunya (rotasi) satu kali putaran 24 jam sehingga terjadilah siang dan malam. Kemudian bersama rembulan, bumi mengelilingi matahari (revolusi) satu kali keliling memakan waktu satu tahun, dengan jarak bumi ke matahari rata-rata 149,5 juta km. Coba bayangkan, siapakah selain Allah yang mampu memutar bumi dan berkeliling secara rutin dan teratur ini?

Firman Allah SWT dalam surah Al-Qashash ayat 71-73:

Artinya: “Katakanlah, coba terangkan kepadaku, bagaimana seandainya Allah menjadikan malam itu terus-menerus sampai hari kiamat. Siapakah tuhan selain Allah yang mampu mendatangkan sinar terang (siang) kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar? Katakanlah, coba terangkan kepadaku, bagaimana seandainya Allah menjadikan untukmu siang itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah tuhan selain Allah yang bisa mendatangkan malam kepadamu untuk beristirahat? Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dan karena rahmatNya jualah, maka Dia jadikan untukmu siang dan malam, supaya kamu beristirahat pada waktu malam dan mencari karuniaNya (pada waktu siang), agar kamu bersyukur kepadaNya”.

Adapun kalimah tauhid (LA ILAHA ILLALLAH) yang artinya “Tidak ada tuhan selain Allah” merupakan pernyataan mengenai ke-Esaan Allah SWT, dengan pengertian bahwa hanya kepada Allah sajalah kita beribadah, hanya kepada Allah sajalah kita memanjatkan do’a. Hanya kepada Allah sajalah kita bertawakkal berserah diri. Kita memohon rezeki hanya kepada Allah. Dan kita memohon kesembuhan hanya kepada Allah.

Firman Allah SWT dalam surah Al Fatihah ayat 5:

Artinya: “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”.

Sedangkan kalimah tahmid (WA LILLAHIL HAMD) yang artinya “Dan hanya bagi Allah segala puji”, adalah suatu ugkapan kesadaran terhadap segala nikmat anugerah Allah SWT kepada kita yang wajib kita syukuri”. Firman Allah SWT dalam surah Ibrahim ayat 34:

Artiya: Dan Dialah (Allah) yang memberikan kepadamu apa yang kamu perlukan dari segala apa yang kau mohonkan kepadaNya. Dan seandainya kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menghinggakannya:.

Mengapa kita diperintah untuk banyak bertakbir mengagungkan Allah? Karena Allah Maha Tahu, betapa sering kita ucapkan takbir di dalam shalat, namun kita lupakan makna takbir di luar shalat. Kita besarkan Allah di dalam masjid, tetapi di luar masjid kita besarkan kekayaan dan kekuasaan, kita agungkan pangkat dan jabatan, lantaran kta ikuti keinginan hawa nafsu demi kepentingan sesaat. Di atas sajadah kita gemakan takbir, namun di rumah, di tempat kerja dan di mall kita gantikan takbir dengan takabur.

Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillahil hamd

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Kini bulan Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita. Rasanya belum maksimal kita beramal pada bulan yang istimewa ini. Padahal tidak seorangpun diantara kita yang mengetahui dan dan mematikan diri, bahwa pada tahun mendatang umur kita sampai bersua lagi dengan bulan yang mulia ini. Mudah-mudahan sekecil apapun amal ibadah dan amal shalih yang kita lakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah berupa shiyam di siang hari, shalat qiyamul lail di malam hari, tadarus Al Qur’an, dzikir dan do’a, memberi ta’jil berbuka puasa, zakat infaq dan shadaqah, serta i’tikaf di masjid, semua ini diterima Allah. Taqabbalallahu minna wa minkum. Amin.

Dengan berakhirnya bulan Ramadhan, bukan berarti berakhir pulalah perjuangan kita dalam mengendalikan nafsu, agar selalu berbuat taat dan menjauhi maksiat. Justru ketaatan beribadah, keikhlasan beramal shalih, demikian pula kejujuran dan kesabaran selama satu bulan Ramadhan hendaknya tetap istiqamah dilestarikan pada sebelas bulan pasca Ramadhan mendatang.

Untuk ini amat diperlukan adanya konsistensi dalam beramal, istiqamah dalam beribadah kepada Allah, dan berlaku shalih terhadap sesama makhluk. Semua itu dilaksanakan secara ikhlas semata-mata karena Allah, mencari ridhaNya dengan mengikuti teladan serta tuntunan Rasulullah SAW.

Marilah kita camkan firman Allah SWT dalam surah Al-Hadid ayat 16 :

Artinya: ”Belumlah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan taat kepada kebenaran (Al Qur’an) yang diturunkan kepada mereka”.

Ayat ini diawali dengan ungkapan yang benar-benar menyentuh kalbu yakni ”alam ya’ni” artinya belumkah tiba saatnya? Belumkah tiba saatnya bagi orang yang beriman untuk rajin menegakkan shalat berjama’ah di masjid? Masih menunggu kapan lagi? Belumkah tiba saatnya bagi orang yang beriman untuk gemar berinfaq dan bershadaqah? Masih menanti apalagi? Belumkah tiba saatnya bagi orang yang beriman untuk selalu berbuat baik kepada ibu dan ayah yang semakin hari semakin lanjut usia? Marilah kita sambut seruan Allah ini dengan tekad yang kuat untuk tidak lagi menunda-nunda dalam urusan ibadah dan aal shalih. Menunggu kalau sudah lanjut usia, menanti jika sudah pensiun, menunda bila sudah hidup mapan dan menunggu bulan Ramadhan tiba.

Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sabdanya:

Artinya: ”Pergunakan kesempatan lima perkara sebelum datang lima perkara yang lain: Waktu hidupmu sebelum datang matimu, saat sehatmu sebelum tiba sakitmu, masa senggangmu sebelum padat sibukmu, kala mudamu sebelum lanjut usiamu dan ketika kayamu sebelum fakirmu”. (H.R. Hakim dan Baihaqi dari ’Abdullah bin ’Abbas r.a)

Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillahil hamd

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Hari ini tanggal 1 Syawal adalah Hari Raya ’Idul Fithri. Bermakna kembali kepada fitrah kesucian. Hari ini kita berbahagia. Kebahagiaan kita bukan kebahagiaan yang semu. Bukan kebahagiaan hanya karena berganti baju. Bukan hanya karena hadiah penuh di saku. Bukan hanya karena banyaknya saudara kumpul bersatu. Bukan hanya karena di rumah penuh tamu. Namun yang harus diutamakan adalah ketaqwaan yang terpadu. Yang terpaku dalam kalbu. Yang tersimpul dalam kata dan perilaku.

Oleh karena itu, segala kegiatan untuk merayakan ’Idul Fithri harus merupakan amaliah yang suci dan terpuji. Dijauhi segala bentuk maksiat. Dihindari berbagai makanan dan minuman haram yang mengotori hari yang fitri ini. Hendaklah dirayakan dengan kesederhanaan tidak dengan kemewahan apalagi pemborosan dan berfoya-foya. Marilah kita jalin silaturrahim, maaf memaafkan satu dengan yang lain, terutama antara anak dengan orang tua, isteri dengan suami, dengan tetangga dekat dan teman sejawat.

Mudah-mudahan Allah SWT menjadikan kita hamba-hambaNya yang kembali suci, mampu mengendalikan nafsu serta meraih kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Akhirnya marilah kita memanjatkan do’a kehadirat allah Tabaraka wa Ta’ala.

Ya Allah Yang Maha Pengasih

Kami bersyukur kehadiratMu, berkat limpahan rahmatMu, kami mampu mengisi bulan Ramadhan ini dengan shiyam dan amaliah lain mengikuti jejak RasulMu.

Ya Allah Yang Maha Penyayang

Rasanya amat banyak tindak maksiat yng kami lakukan. Beragam dosa yang kami kerjakan. Memang, isteri, suami dan anak-anak kami tidak melihatnya karena kami rahasiakan. Tetangga sekitar kami tidak mengetahuinya sebab kami sembunyikan. Teman dan handai taulan kami tidak mendengarnya lantaran kami tutup-tutupi. Namun bagiMu Ya Allah, tidak sesuatupun yang tertutup dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi. Karena Engkau Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Maka ampunilah Ya Allah kesalahan kami dan maafkanlah kekhilafan kami. Berilah kami hidayah taufiqMu dan kemampuan lahir batin untuk tidak lagi mengulangi tindakan maksiat masa mendatang.

Ya Allah Yang Maha Pemurah

Kami adalah hamba-hambaMu yang tidak punya rasa malu.

Tiada henti-hentinya Engkau curahkan nikmat karunia kebaikan kepada kami. Namun tiada henti-hentinya pula kami salah gunakan dengan berbagai pelanggaran. Betapa besar kasih sayangMu kepada kami. Walau begitu banyak dan seringnya pelanggaran yang kami lakukan, tetapi Engkau secara bijak tidak segera menjatuhkan siksa kepada kami. Engkau beri kesempatan kepada kami untuk sadar dan bertaubat kembali kepada ke jalanMu. Terimalah taubat kami.

Ya Allah Yang Maha Bijaksana

Jadikan kami hamba-hambaMu yang selalu ingat kepadaMu, yang sering menyebut asmaMu, yang tekun beribadah padaMu, yang pandai mensyukuri nikmatMu, dan sabar menerima cobaanMu, demi memperoleh keridhaanMu.

Ya Allah Yang Maha Pendengar

Berilah kami bimbingan agar langkah kami selalu menapak jalan yang lurus. Jalannya hambaMu yang Engkau cintai, bukan jalan mereka yang dimurkai. Jalannya hambaMu yang kau beri nikmat, bukan jalan mereka yang tersesat.

Ya Allah Yang Maha Penyantun

Bila Kau halau kami dari pintuMu, kepada siapa lagi kami kan bernaung. Andai Kau tolak permohonan kami,kepada siapa lagi kami kan berlindung. Terimalah doa kami ini.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s