Menjaga Keluarga dari api Neraka

Hampir satu milinium berdakwah tanpa hasil memadai, membuat Nabi Nuh AS memohon kepada Allah SWT untuk melenyapkan seluruh manusia yang enggan beriman. Permohonan itupun dikabulkanNya dengan mengirimkan air bah terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia, setelah sebelumnya menyuruh Nuh membuat kapal dan memerintahkan untuk membawa segelintir kaumnya yang telah beriman untuk naik keatas perahu itu.

Saat volume air terus naik dengan amat cepat, Nuh melihat anaknya berlari  tunggang langgang berusaha menghindari banjir. Nuh pun memanggil sang anak agar ikut naik kapal bersamanya. Namun sang anak terlalu sombong dan memilih untuk terus mendaki gunung berharap bisa terhindar dari banjir. Namun banjir kala itu amatlah dahsyat, air terus naik hingga melampaui ketinggian gunung sekalipun. Tak pelak, anak nabi Nuh pun ikut tenggelam bersama mereka yang enggan beriman. Sebagai manusia biasa, hati Nuh merasa miris melihat sang anak tak berhasil menyelamatkan diri. Seuntai harap pun terucap “Ya Allah, anakku adalah keluargaku.” Berharap Allah SWT akan menyelamatkan sang anak. Tapi dengan tegas Allah SWT menjawab: “Dia bukan keluargamu, dia adalah perbuatan tidak baik.”

Islam mengakui ikatan keluarga berdasarkan pertalian darah atau rahim. Terbukti dengan adanya perintah untuk menjaga silaturrahim (An-Nisa: 1) dan bertebarannya perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua (Maryam: 14, Al-ankabut: 8, Lukman: 14, Al-Ahqof: 15). Bahkan dalam beberapa kesempatan Allah SWT menggandengkan antara perintah tauhid dan perintah berbakti kepada orang tua (Al-Isra’ : 23) menunjukkan betapa pentingnya menjaga hubungan keluarga itu.

Namun ikatan keluarga berdasarkan pertalian darah ini bisa menjadi tak berarti jika tidak diikuti oleh pertalian iman. Kisah nabi Nuh di atas adalah salah satu bukti. Anak sang nabi tak lagi dipandang sebagai bagian dari keluarganya. Sebab, saat Nuh menjadi representasi risalah ilahiyah yang menyeru kepada keimanan, anaknya malah mereprentasikan perbuatan tidak baik dengan menolak beriman.

Hal serupa dialami juga oleh beberapa nabi yang lain. Keengganan ayah Ibrahim, istri Luth, dan beberapa paman Nabi SAW (termasuk Abu Thalib) untuk beriman, membuat ikatan kekeluargaan mereka dengan para nabi tersebut terputus. Ikatan kekeluargaan tersebut mungkin boleh berlanjut di kehidupan dunia, tapi tidak di akherat.

Karena itulah, selain menyuruh untuk berbakti kepada kedua orangtua dan menjaga ikatan silaturrahim, Islam juga berpesan agar orang beriman menjaga keluarganya agar tidak menjadi ahli neraka. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…..” (At-Tahrim: 6).

Menjaga keluarga dari api neraka tentu saja dengan menjadikan mereka manusia yang beriman dan taat kepada Allah. Untuk itu mereka harus diperkenalkan kepada satu-satunya agama yang diridhai Allah, yaitu Islam. Hendaknya diberikan kepada mereka akses seluas-luasnya untuk mempelajari dan memahami agama ini agar mereka dapat beriman dan beragama dengan baik dan benar.

Tanggungjawab pertama untuk itu jelas berada di pundak seorang ayah atau suami. Rasulullah SAW bersabda: “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya……seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, dan dia bertanggungjawab atas mereka semua….” (HR.Muslim no.3408). Tanggungjawab tersebut meliputi bidang ekonomi, pendidikan, terlebih bidang agama.

Allah SWT berpesan dalam firmanNya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka……” (An-Nisa’: 9). Meski konteks pesan ini adalah lemah dalam bidang ekonomi karena berada di antara ayat tentang ahli waris, namun bisa dianalogikan kepada kelemahan di bidang agidah dan agama. Meninggalkan keturunan yang miskin ekonomi memang pantas membuat kita khawatir, namun kita lebih patut khawatir kalau meninggalkan keturunan yang miskin iman.

Ada baiknya kita meniru apa yang dilakukan oleh Nabi Ya’kub AS saat ajal datang menjemput. “Adakah kamu hadir ketika Ya’kub ke datangan (tanda-tanda) maut, ketika ia bertanya kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?…..(Al-Baqoroh: 133).

Pada saat genting tersebut, nampaknya tidak terlalu penting mempertanyakan apa yang akan dimakan oleh anak-anak sepeninggal kita. Yang terpenting adalah mempersoalkan apa yang akan mereka sembah setelah kita tiada untuk memastikan kualitas agama dan keimanan mereka. Beruntung Nabi Ya’kub, karena jawaban anak-anaknya adalah: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang satu dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya.” (Al-Baqarah: 133). Untuk memperoleh jawaban semacam itu dari anak-anak kita tentu tidak dapat diwujudkan secara instan. Butuh upaya kontinyu untuk mempersiapkan mereka sejak jauh-jauh hari sebelum ajal datang, agar mereka dapat menjawab dengan tegas: Sepeninggal ayah, aku akan tetap menyembah Allah dan tidak akan pindah agama!

Para pakar pendidikan muslim telah banyak memberi panduan, bagaimana mendidik  anak-anak kita sejak dini, terutama pendidikan bidang agama. Ada baiknya para orang tua, terutama ayah membekali diri dengan ilmu pendidikan anak yang islami agar dapat merealisasikan pesan Allah dalam surat At-Tahrim di atas.

Pemilihan lembaga pendidikan yang baik merupakan salah satu upaya kearah sana. Alangkah baiknya para orang tua memilih lembaga pendidikan yang memberi porsi agama yang lebih besar. Jika harus ke sekolah umum, hendaknya diiringi dengan pengajaran agama yang intensif di rumah atau di masjid dan madrasah. Ada baiknya para orang tua memahami betul kurikulum lembaga pendidikan tempat anaknya belajar. Semakin mengguritanya pemikiran liberal hingga merasuki kurikulum agama Islam di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Islam menimbulkan persoalan tersendiri bagi keselamatan aqidah anak-anak kita.

Jangan sampai sepeninggal kita, atau bahkan pada saat kita masih ada, anak-anak kita berpindah agama, jika itu terjadi, kita telah kehilangan satu amalan yang tak terputus oleh kematian, yaitu anak yang sholeh (HR.Muslim No.3084). Jika iman dan agama anak kita lemah, sulit rasanya untuk menaruh harapan padanya agar bersedia meluangkan waktu mendoakan kita. Apalagi jika sang anak telah berpindah agama, tuhan tempat dia menujukan doanya tentu tak lagi sama dengan Tuhan kita

Wallahu’alam bishawab. (oleh Mujiono, SE)

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s