MAKLUMAT

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Pimpinan Pusat Muhammadiyah setelah mencermati secara seksama berbagai peristiwa dan perkembangan nasional di Tanah Air, dengan ini menyampaikan maklumat atau pernyataan sebagai berikut:

1. Bahwa bangsa Indonesia yang telah diberkahi Allah SWT nikmat kemerdekaan dalam usianya ke-63 dan momentum kebangkitan nasional yang ke-100 tahun; kini benar-benar tengah diuji Tuhan dengan segala macam persoalan nasional yang krusial. Bencana, kemiskinan, kerusakan lingkungan, korupsi, lepasnya aset-aset negara, hutang luar negeri, krisis moral dan karakter bangsa, kekerasan, terorisme/anarkisme, beban hidup rakyat yang kian berat, dan masalah-masalah berat lainnya. Bangsa ini sungguh memerlukan muhasabah (introspeksi diri) dan mujahadah (bekerja sungguh-sungguh) dalam mengambil langkah-langkah penyelamatan oleh segenap elemen bangsa, para elite wibawa, dan pemegang tampuk pemerintahan. Pemerintah dan segenap kekuatan nasional perlu lebih berkonsentrasi dalam melaksanakan reformasi dan menyelesaikan masalah-masalah bangsa ke arah yang memberikan kepastian. Bangsa ini juga memerlukan para elite nasional dan lokal yang berjiwa negarawan untuk menyelesaikan masalah dan menggerakkan perahu bangsa ke jalan yang benar dengan penuh pertanggungjawaban moral yang tinggi. Indonesia sungguh memerlukan konsolidasi nasional yang kokoh, terarah, dan sejalan dengan mandat yang diberikan rakyat.

2. Dalam kehidupan kebangsaan Muhammadiyah sungguh prihatin dengan kecenderungan sebagian kelompok yang melakukan tindakan-tindakan kekerasan, teror, dan anarkis dalam menyampaikan dan memperjuangkan aspirasi sehingga mengancam keselamatan, ketertiban, dan hajat hidup publik. Muhammadiyah mengecam dan menolak segala bentuk kekerasan, lebih-lebih yang mengatasnamakan agama. Setiap tindakan kekerasan selain merugikan kepentingan umum dan melawan hukum, juga bertentangan dengan ajaran agama yang mengajarkan perdamaian dan keselamatan. Islam melarang umatnya melakukan perbuatan fasad (kerusakan) di muka bumi. Karena itu segala bentuk kekerasan dan perusakan harus ditindak secara tegas sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku tanpa pandang bulu agar hal serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari. Kemampuan menahan diri dan tidak terprovokasi merupakan ciri umat yang dewasa. Kekerasan pun tidak boleh dilawan dengan kekerasan karena hanya melahirkan kekerasan dan anarkisme baru. Kekerasan dalam bentuk apapun, oleh dan terhadap siapapun sungguh merusak dan meruntuhkan peradaban bangsa.

3. Muhammadiyah mengajak kepada semua elemen bangsa, bahwa dalam memperjuangkan suatu aspirasi tidak dapat dilakukan dengan kekerasan dan anarkis. Belajar dari kearifan para pendiri bangsa bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia saat ini sungguh memerlukan kedewasaan, toleransi, tanggungjawab, kebaikan, daya kritis, dan keadaban atau akhlak mulia lebih dari sekadar perjuangan hak semata. Sejalan dengan itu para elite dari semua elemen bangsa dituntut keteladanan dan kearifannya dalam memperjuangkan aspirasi maupun membimbing warga di lingkungannya, sehingga dapat melahirkan situasi yang kondusif, aman, dan damai. Setiap bentuk provokasi dan antagonis dapat melahirkan anarkisme sosial. Berkaitan dengan itu perlu dikembangkan ruang dialog antar komponen bangsa yang penuh kedewasaan, kecerdasan, dan kearifan demi tegaknya kehidupan bersama yang lebih damai, harmoni, dan bermartabat. Dalam suasana yang seperti itu media massa dalam melakukan kerja-kerja jurnalistiknya selain perlu objektif juga dituntut untuk ikut menciptakan suasana cerdas dan damai.

4. Muhammadiyah berpandangan bahwa bagi bangsa Indonesia demokrasi merupakan salah satu pilar penting dalam kehidupan bernegara sebagaimana cita-cita kemerdekaan dan konstitusi negara. Namun demikian demokrasi dengan prinsip kebebasan, termasuk kebebasan dalam beragama/berkeyakinan, tidak boleh bertentangan dengan ajaran agama dan falsafah bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Kebebasan bagi bangsa Indonesia harus memiliki pijakan dan bingkai dalam falsafah bangsa, agama, dan nilai-nilai utama yang hidup dalam kebudayaan bangsa.

5. Bangsa Indonesia memiliki tradisi dan kebudayaan yang besar. Karena itu dalam menghadapi permasalahan yang seberat apapun tidak boleh mengedepankan kekerasan, emosi, dan amarah. Media massa, tokoh masyarakat, dan para elite dari semua elemen berkewajiban untuk mendorong dan menciptakan suasana kehidupan nasional yang lebih baik, arif, dan memberikan keteladanan bagi masyarakat luas. Diperlukan moral/etika yang mulia dan menjauhkan diri dari sikap-hidup yang berlebihan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

6. Pemerintah dituntut kesungguhannya dalam memahami dan menyelesaikan masalah dengan melihat ke akar masalah agar tidak keliru mengambil langkah. Pemerintah dalam mengambil kebijakan juga diminta untuk memprioritaskan masalah-masalah yang krusial, tidak menunda-nunda masalah yang harus dipecahkan, serta sebesar-besarnya mengutamakan kemaslahatan nasional yang lebih besar. Semua elemen bangsa dan pemerintah hendaknya lebih mengedepankan kepentingan-kepentingan nasional yang lebih besar dan utama dalam memecahkan masalah dan mengagendakan kebijakan. Kepada semua kalangan termasuk pihak asing dihimbau untuk dapat menahan diri dan tidak ikut-campur dalam menghadapi persoalan-persoalan domestik (dalam negeri), hal itu agar tidak tercipta situasi yang semakin keruh dan runtuhnya martabat serta kedaulatan bangsa.

7. Setiap organisasi dan tokoh Islam perlu meningkatkan pemahaman agama yang lebih luas dan mencerahkan kepada umatnya, serta tidak menanamkan fanatisme sempit. Perlu ditumbuh-kembangkan sikap ukhuwah, silaturahim, dan komunikasi dialogis, serta menjauhkan diri dari sikap merasa paling benar dalam beragama. Islam harus ditampilkan sebagai agama perdamaian dan kemajuan untuk membangun peradaban yang utama.

Akhirnya dengan senantiasa memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah SWT, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengajak kepada segenap komponen dan elite bangsa untuk semakin mengasah kearifan dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga diberi kemudahan dalam menyelesaikan masalah-masalah nasional menuju pada tatanan kehidupan yang lebih baik sebagai bangsa yang besar dan berperadaban tinggi.

Jakarta, 5 Juni 2008

PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH

Ketua, Sekretaris Umum,

Dr. H. Haedar Nashir, M.Si. Drs. H. A. Rosyad Sholeh

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s