Buku Tentang Politik Penciraan SBY oleh Endi Biaro pada 1 September 2010

Buku Pak Beye dan Istananya, karya Wisnu Nugroho, memang terasa khas dan unik. Khas sebagai sebuah laporan jurnalistik yang tak tertayang di media umum (mainstream), dan akhirnya muncul di blog (kompasiana). Khas karena menyembulkan sebuah temuan penting seputar istana, yang tak banyak diketahui awam.

Buku ini juga terbilang unik karena mengekspos pernak pernik dan “pritilan” sepele dari beragam hal, mulai dari mobil metromini masuk istana, air putih, hingga Pak Iwan yang bertugas membawa-bawa podium kepresidenan ke mana-mana (dari Jakarta, Banda, hingga Papua).

Ditulis mengalir tetapi kuat, penuh daya kejut dan daya gugah. Agaknya, bukan hanya masyarakat awam yang terhentak atas “berita ringan” tentang istana dalam sajian buku ini. Pun, bagi kalangan elit politik, tetap saja mengesankan. Tak kurang sejumlah politisi berkomentar, mulai dari Dino Patti Djalal, Ramadan Pohan, sampai Ibas (Edhie Yudhoyono). Mereka mengapresiasi baik buku ini. Tetapi hebatnya, tokoh yang tersengat secara langsung sekalipun, juga memberi pengakuan. Adalah Yenny Zarnubah Wahid, yang pernah ngantor bersama SBY, mengaku kena sentil juga. Ketika itu, Yenny mengikuti Pidato Pak Beye, yang salah satu poinnya adalah ajakan menggunakan produk dalam negeri. Persis ketika akan mengatakan hal itu, SBY terlihat badmood, karena orang-orang di depannya justru banyak yang menggunakan merek produk luar —termasuk Yenny sendiri.

Panggung Belakang
Teramat banyak hal, setidaknya dalam 6 BAB dari buku ini, yang asyik ditelusur. Tetapi tidak banyak hal yang bisa digarisbawahi. Kecuali bahwa paparan dari buku ini menguatkan premis tentang perkasanya mesin politik pencitraan dari SBY ––dan anak buahnya.

Sejumlah cerita, misalnya tentang batik biru yang dikenakanSBY, baret Paspamres yang berganti warna menjadi biru, podium khusus yang selalu ke mana-mana, teleprompter transparan (sebuah alat yang menghadirkan teks untuk pidato SBY), hingga wawancara yang direkayasa, mencerminkan adanya sebuah “mindmap” yang seragam di lingkungan istana. “Mindmap” atau peta berpikir itu mengarah pada satu tujuan: citra sempurna! Pak SBY adalah orang yang perfeksionis —serba sempurna, dan lagu kesukaannya adalah dari Andre and The Backbone, kau begitu sempurna….

Output dari strategi sedemikian juga terbilang sukses. Masyarakat awam seperti terhipnotis, oleh ketampanan, oleh ketenangan, oleh wibawa, oleh warna, dan oleh segala hal yang diekspos televisi. Sosok Pak Beye dibantu oleh para stafnya, akhirnya selalu tampil cool, calm and confidence.

Buku itu seperti memapar “panggung belakang” dari Political Showbiz seorang SBY. Panggung belakang ini adalah kerja keras orang-orang di sekitar SBY, baik kalangan elit politik, lingkaran dalam SBY, maupun orang-orang kecil yang terlibat (mulai dari penata ruangan, pembawa podium,petugas chek sound, tukang masak istana, hingga pawang hujan).

Kira-kira, terpikirkah anda bahwa sukses pencitraan SBY juga hasil jerih payah wong cilik seperti itu? Inilah hebatnya buku ini. Seperti pengakuan penulisnya, yang mengusung kredo “menjaga yang tidak penting agar tetap penting, dan yang penting tetap menjadi penting”. Yang tidak penting itu adalah orang-orang seperti Pak Iwan —-petugas pembawa podium, agar tetap penting. Dan yang penting itu adalah SBY sendiri, agar terus dianggap penting.

Di sisi lain, bagi pengamat strategi pencitraan, maka fakta-fakta lugas seputar istana itu justru mengokohkan premis tentang kokohnya Amerikanisasi Politik di Indonesia. Melalui seorang agen besar yang sekaligus menjadi role model, yaitu Soesilo Bambang Yudhoyono.

Amerikanisasi Politik
Televisi dan lalu kemudian diikuti media massa lainnya, menjadi pemasok terpenting perang pencitraan dalam praktek Amerikanisasi Politik. Lalu diikuti oleh para electioneer para konsultan politik yang bekerja keras mengerek citra dan popularitas seorang tokoh. Di barisan yang sama, ada juga agensi periklanan. Dan yang tak kalah penting, serta harus senantiasa hadir, adalah “para bandar”.

Begitulah bahasa gampangan untuk Amerikaniasi Politik. Dalam perincian ketat, Amerikanisasi Politik adalah proses duplikasi metode komunikasi politik dan kampanye publik yang sepenuhnya amerika (dengan “a” kecil). Proses ini, selain ditandai oleh kekuatan uang dan sindikasi media, juga melibas segala hal yang bernuansa alternatif. Yang terjadi adalah homogenisasi dan konvergensi. Lebih parah lagi, dalam Amerikanisasi Politik, substansi menjadi urusan yang kesekian. Buku Pak Beye dan Istananya ini, bila dibaca jeli, juga mengungkap kuatnya aroma Amerikanisasi Politik di lingkungan istana.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s