DOKTRIN JIHAD DALAM PERSPEKTIF PELAKU BOM BALI 12 OKTOBER 2002

Agus 17 |00:00
Terakhir Diupdate Rab, 25 Aug 2010 16:49

DOKTRIN JIHAD DALAM PERSPEKTIF PELAKU BOM BALI 12 OKTOBER 2002 dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor (S3) Promovendus Zulfi Mubaroq, M.Ag

Kajian ini didasarkan pada kasus besar yang menyertai mencuatnya istilah jihād di permukaan, yaitu terjadinya aksi peledakan bom di pusat hiburan kawasan Legian, Kuta, Bali pada tanggal 12 Oktober 2002. Berangkat dari latar belakang masalah di atas ada tiga hal yang akan diteliti, yaitu: Pertama, bagaimana latar sosial-budaya Amrozi, Ali Ghufron, dan Imam Samudra sebagai pelaku Bom Bali 12 Oktober 2002. Kedua, bagaimana pemahaman mereka tentang doktrin jihād. Ketiga, apa motif mereka melakukan pengeboman di Bali. Pendekatan yang dipilih dalam kajian ini untuk mengungkap ketiga aspek tersebut adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi melalui metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Adapun untuk menginterpretasi data digunakan analisis hermeneutika intensional.

Adapun hasil penelitian sebagai berikut: Pertama, Latar Sosial Budaya Pelaku Bom Bali 12 Oktober 2002.

(1) Amrozi dilahirkan di Tenggulun Lamongan. Dia mengalami trauma saat usia anak yang kemudian mengakibatkan kurang mampu mengungkapkan pikiran dengan kata-kata (gagap) sehingga untuk menunjukkan ekspresinya, dia menulis dan melukis di pohon, suka mencari perhatian dan memberontak. Dia hanyalah lulusan SD Tenggulun karena dia tidak tamat, ketika melanjutkan ke SMP Solokuro. Dia tidak pernah “mondok” secara khusus, walaupun di Pondok Pesantren Islam (PPI) Al-Islam Tenggulun sekalipun. Dia telah menikah tiga kali. Perilakunya seperti ini, mungkin karena akibat perlakuan istimewa semua keluarga kepadanya yang dipicu oleh parasnya yang tampan. Namun, perceraian dengan kedua istrinya dalam selang waktu yang pendek, terkesan dia tidak mampu mempertahankan keutuhan atau mengalami kegagalan dalam berumah tangga. Hal ini, mungkin juga disebabkan dia sering menganggur atau tidak memiliki pekerjaan tetap yang dapat menafkahi keluarganya. Dia adalah orang yang berfikir sederhana dan melakukan sesuatu tanpa pikir panjang, serta berpikiran yang nyeleneh atau berseberangan dengan orang lain, kemungkinan besar dikarenakan kemampuan intelektualnya lebih rendah daripada usianya. Dia adalah orang yang berpikiran tunggal yaitu segala sesuatu haruslah sesuai dengan ajaran Islam, jika tidak maka harus dihancurkan. Dia adalah orang yang teguh pendirian dan merasa bahwa dirinya benar serta yakin akan mati syahid, namun dia tetap tabah, sabar dan tawakal serta dengan rendah hati minta maaf kepada istri, keluarga, orang tua dan saudaranya. Dia merasa bahwa Allah sengaja mengirimnya untuk menjadi penghancur musuh Allah. Saat mendengar tentang pengeboman, dia sangat percaya diri, wajahnya tampak sangat cerah dan tidak peduli apapun resikonya. Awalnya, pengetahuan agamanya terbatas namun setelah dibimbing Ali Ghufron di Malaysia dan bertemu dengan Imam Samudra, akhirnya pengetahuannya tentang Islam semakin kuat khususnya doktrin jihad, bahkan akhlak dan cara berpakaiannyapun telah berubah secara menyolok.

(2) Ali Ghufron dilahirkan di Tenggulun Lamongan dan tidak mengalami trauma masa kecil. Dia berhenti di SD saat kelas empat dan bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah lalu ke SMP, kemudian di Pendidikan Guru Agama (PGA) di Payaman, namun dia sangat frustasi melihat perilaku teman-temannya PGA yang jauh dari ajaran Islam, kemudian dia mondok di PPI Al-Mukmin Ngruki, Solo dan menjadi santri Abu Bakar Ba’asyir. Setelah tamat di Ngruki, dia menuju ke Afghanistan melewati Malaysia. Di Pakistan, dia bertemu dengan para mujahidin Arab yang akan berangkat ke Afganistan lalu dia bergabung dengan mereka daripada dia melanjutkan pendidikannya, dia juga mengunjungi negara Libya, Pakistan, Afghanistan dan Iran. Di Afganistan, dia terlibat dalam peperangan melawan Rusia dan sempat bertemu dengan ustadz Usamah ibn Laden yang sangat dipuja-pujanya dan akhirnya dia bersamanya di medan perang sekitar enam bulan. Dia menyebut Afghanistan sebagai The Real University of Jihad. Sebagai seorang mujahidin, dia terlatih dalam menguasai persenjataan (pistol, roket dan bom), taktik perang, pembacaan peta, dan ahli mesin. Peperangan adalah suatu kegemaran dan kesenangan melebihi kenikmatan bersama istrinya karena dia ingin mati syahid. Setelah peperangan, dia mendirikan dua pesantren di Johor Malaysia, namun suatu hari ditutup setelah dia ditangkap sebagai teroris. Dia bekerja sebagai ustadz di Johor Malaysia dalam beberapa bulan, untuk mencari uang yang akan dia kirimkan ke orang tuanya di rumah. Meski hidup di luar negeri, dia tetap memperhatikan dan membimbing Amrozi. Dia adalah orang yang kritis, kokoh dalam berpendirian, berpandangan sangat kuat terhadap Islam, menguasai ilmu pengajaran Islam dan sangat terlatih penguasaan senjata dan teknik peperangan. Dia adalah suami yang setia dan ayah yang bertanggung jawab anaknya, dia hanya menikah sekali sampai saat ini. Dia adalah seorang ustadz dan wiraswastawan yang mempunyai hobi olah raga, membaca dan menulis buku-buku agama Islam, dengan berbekal hafalan telah menghasilkan sekitar enam buku, ketika Lapas Kerobokan, Bali sampai di Lapas Batu, Nusakambangan, Cilacap. Di Johor Malaysia, dia bertemu dengan Wanmin Muhammad dan Hambali, serta mendapatkan sejumlah uang lalu bertemu dengan Imam Samudra, kemudian mengatur rencana pengeboman di Bali. Ada tiga faktor yang kemungkinan besar mempengaruhinya untuk mengamalkan Islam melalui jihad berupa peledakan bom di Bali, yaitu: faktor pertama, pendidikan agama ayahnya dan kakeknya serta idealisme Islam yang dibangun melalui pondok pesantren Al-Mukmin Ngruki. Faktor kedua, kondisi keprihatinan yang sangat dari pengamatannya terhadap nasib umat Islam di berbagai negara dan melihat perilaku orang dan teman-temannya di pesantren dan PGA yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Faktor ketiga, pengalaman indoktrinasi jihad, pelatihan dan penguasaannya dalam berbagai persenjataan ketika di Afghanistan, khususnya setelah bertemu dan berperang dengan tokoh idolanya, Usama ibn Laden.

(3) Imam Samudra dilahirkan di Serang Banten. Dia tidak mengalami trauma pada masa anak-anak. Dia sangat tertarik dan bersemangat dalam belajar tentang Islam dengan cara berhenti bersekolah di sekolah umum dan berpindah ke Madrasah Aliyah. Selain itu, dia gemar mengikuti berbagai kajian Islam di masjid-masjid. Dia memiliki kecerdasan yang sangat tinggi dan selalu mendapatkan ranking pertama di kelas. Dia ahli komputer dan teknologi informasi. Dia juga sangat percaya diri, aktif dalam organisasi pelajar, serta memiliki keberanian untuk bertarung melawan anak yang lebih besar dan lebih kuat. Dia pernah belajar ilmu kebal, namun berhenti karena dia yakin bahwa hal itu musyrik. Dia tidak tertarik untuk studi Islam di Indonesia, akhirnya dapat studi di Malaysia, Pakistan dan Afghanistan. Dia seorang yang idealis, tegar, tegas, konsisten, tidak memiliki rasa takut dan sedih, suaranya lantang, gemar menyerukan asma Allah dan Takbir. Dia mencintai keluarganya, melindungi orang tuanya, mertuanya, istri dan anaknya, bahkan dia menutup-nutupi operasi Bom Bali. Dia tetap memberi nafkah untuk mendukung keluarganya dengan mengajar agama Islam di Malaysia dan di Indonesia, berdagang madu, kurma, dan produk pabrik dalam jumlah partai besar. Dia adalah orang memiliki ide dan ahli dalam merencanakan, mengatur dan memimpin pengeboman di Legian Bali, 12 Oktober 2002, bersama Ali Ghufron dan Amrozi. Ada faktor-faktor yang ikut mempengaruhi dinamika psiko-ideologi Imam Samudra, yaitu: faktor pertama, kondisi sosio-kultural masyarakat Banten yang sejak dahulu dikenal sebagai orang yang sangat fanatik dalam hal agama Islam, bersifat agresif dan bersemangat memberontak, dapat berpengaruh terhadap perilakunya sebagai orang yang dilahirkan dan sejak kecil dibesarkan di Serang Banten. Faktor kedua, sesungguhnya dia adalah orang yang lemah lembut, memiliki hati nurani, dan penuh humor. Namun, ketika dia dihadapkan pada kejadian-kejadian memilukan di dunia sehingga hatinya merasa sedih dan pedih, serta merasa harus melakukan sesuatu dalam melawan kezhaliman dan diskriminasi Amerika dan sekutunya terhadap umat Islam, akhirnya dia memilih berjihad di jalan Allah untuk meraih surga. Faktor ketiga, pengaruh kaum mujahidin Afghanistan yang ikut andil dalam melakukan indoktrinasi jihad dan sekaligus menunjukkan kepadanya suasana perang yang sesungguhnya sehingga dia terdorong untuk ikut dalam peperangan kontak senjata (the real university of jihad).

Kedua, pemahaman jihad yang mereka yakini paling benar dan menonjol yaitu: hal pertama, pengertian jihad dipahami dalam dua pengertian yaitu bahasa dan teologi. Dalam pengertian bahasa, kata jihad dari perspektif etimologi bahasa Arab yang berarti mencurahkan kemampuan dan kemampuan, memerangi dan melawan musuh. Dalam pengertian teologi yaitu pengertian jihad dalam konsep hukum Islam, baik yang didasarkan pada al-Qur’an, sunnah, atau ijma’ para ulama. Secara teologis, jihad memiliki banyak makna dan sangat luas, mulai dari berjuang melawan hawa nafsu sampai mengangkat senjata ke medan perang atau laga. Jika dikaitkan dengan fi sabil Allah maka jihad berarti berjuang atau berperang di jalan Allah. Jadi jihad itu artinya perjuangan yang dapat dilakukan dengan tangan, lisan atau hati. Hal kedua, prinsip jihad adalah sebagai berikut: (a) Jihad adalah ibadah di jalan Allah harus dilakukan dengan penuh keikhlasan dan untuk menegakkan kalimat-Nya. (b) Jihad dilakukan setelah dakwah Islam kepada kaum kafir dan mengajak mereka beriman, atau diberi kewajiban membayar jizyah (jaminan), kecuali jika masih juga tidak mau beriman, membayar jizyah dan bahkan memerangi maka wajib diperangi. (c) Antara umat Islam dengan kaum kafir tidak ada perjanjian damai. (d) Tujuan jihad adalah untuk kemenangan, kekuatan dan kejayaan Islam yang berdasarkan ijtihad pemimpin atau orang yang ahli, cerdik, arif dan bijaksana. (e) Meminta ijin kepada sang imam atau khalifah karena dia lebih mengetahui situasi dan kondisi, menyangkut strategi perang kecuali mendadak. (f) Syarat orang berjihad: Islam, baligh, berakal, merdeka, laki-laki, sehat jasmani, cukup bekal untuk dirinya dan keluarganya, mampu menggunakan senjata, dan memperoleh ijin orang tua, majikan, atau orang yang dihutangi. Adapun kewajiban jihad dalam pengertian perang memiliki dua posisi hukum yaitu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Jihad sebagai fardhu ‘ain ialah wajib hukumnya bagi setiap orang muslim. Adapun sebagai fardhu kifayah maka jihad hukumnya wajib bagi kaum muslim, namun kewajiban itu gugur jika sudah ada sebagian orang muslim yang telah melakukan jihad. Hal ketiga, tujuan jihad ialah untuk menegakkan kebenaran, memberantas kemaksiatan, merubah kemunkaran, melawan ketidakadilan, menghindarkan fitnah dan mengusir penindasan. Adapun sasaran jihad ialah kepada diri sendiri, hawa nafsu yang dimiliki seseorang, setan yang selalu menggoda manusia, orang-orang kafir, musyrik dan sesat. Hal keempat, macam jihad ada dua, yaitu jihad asghar (perang melawan musuh) dan jihad akbar (perang melawan hawa nafsu). Adapun bentuk jihad dapat dilakukan melalui hati dengan membenci dan tidak melakukan perbuatan yang dilarang Allah, jihad melalui lisan dalam bentuk dakwah, jihad melalui harta baik untuk mendukung logistik perang atau menafkahkan harta di jalan Allah untuk membantu fakir miskin dan anak yatim dan jihad dengan nyawa melalui perang membela diri dan kehormatan Islam, jika diserang kaum musyrik. Hal kelima, teknik dan strategi jihad melewati empat tahapan atau fase. Fase Pertama yaitu menahan diri, bersabar dan damai. Fase Kedua yaitu diijinkan perang bagi orang-orang yang diperangi. Fase Ketiga yaitu kewajiban memerangi orang-orang yang memerangi umat Islam (terbatas). Fase Keempat yaitu kewajiban memerangi kaum kafir semuanya, sebagaimana mereka memerangi kaum muslim.

Ketiga, motif peledakan bom di Bali 12 oktober 2002 berdasarkan pengakuan dan kesepakatan yang dilakukan Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudra adalah sebagai berikut: Motif pertama, pengeboman tersebut merupakan bentuk jihad untuk melawan fitnah, ketidakadilan dan penindasan yang dialami kaum muslim karena perbuatan orang kafir yaitu Amerika Serikat, Israel, Australia dan sekutu-sekutunya yang selama ini menzhalimi umat Islam di banyak negara. Motif kedua, sebagai balasan yang setimpal atas tindakan yang dilakukan Amerika Serikat dan sekutunya. Korban-korban sipil akibat Bom Bali adalah tidak dapat dielakkan, sebagaimana yang dialami anak-anak dan wanita umat Islam yang tidak berdosa di Palestina, Afghanistan dan lainnya. Motif ketiga, untuk menunjukkan kepada Amerika dan sekutunya bahwa umat Islam mampu melakukan perlawanan dan agar tidak dianggap lemah dan tidak berdaya. Motif keempat, sebagai bentuk amar ma’ruf nahi munkar, khususnya nahi munkar terhadap para pelaku maksiat di Bali maka harus diubah dengan tangan, karena jika ada kemungkaran dan kemaksiatan yang ditemui maka haruslah diberantas tuntas dengan tangannya sendiri, Bom Bali adalah bagian dari bentuk peringatan dengan tangan. Motif kelima, Bom Bali merupakan bentuk protes terhadap pemerintah Indonesia yang melegalkan tempat-tempat maksiat di negara yang mayoritas muslim.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s